Kenikmatan Memandang Wajah Orang-orang Soleh
Pada malam Rabu, 14 April 2020 di Tangerang, saat teman-teman tengah melepas penat berbaring pulas, lelap dalam larut malam, aku masih melanjutkan target tilawahku. Ku coba menghayati hingga menetes air mataku. Kemudian teringat pula nikmat yang luar biasa tentang hakikat iman dan islam. Ingatan tersebut menggiringku pada wajah seorang laki-laki yang biasa dipanggil "Ayah". Ayah Siddiq kalai tidak salah namanya. Beliau seorang ketua dewan dakwah Indonesia. Berpengruh. berkedudukan penting di negaraku, pada umat muslim tentunya. Tak banyak yang ku ketahui dari beliau, cukup tau beberapa hal karena cerita dari mulut ART beliau. Beliau benar-benar panutan. Seorang yang cerdas, banyak membaca, saat duduk di teras rumah nampak ruangan perpustakaan beliau dari jendela yang terang. Sesekali kami berjalan beriringan dengan Ayah menuju masjid kala fajar tiba. Pada satu kesempatan, aku datangi Ayah Siddiq guna meminta nasehat pada beliau. Ayah menyetujui dan meminta kami duduk berkumpul di teras rumah. Biar ku perjelas sedikit. jadi begini, ayah yang punya uang lebih meminta tukang untuk membangun sebuah rumah kecil disamping rumah beliau untuk kami hidupkan Qur'an pada rumah tersebut, di bayar tentu, rumahnya maksudku.
Rumah tersebut dibangun di samping rumah Ayah, terpisah. Namun ayah tetap bisa mendengar lantunan ayat suci teman-temanku. Aku tau, ide briliant itu adalah sebuah wujud dedikasi Ayah juga sebagai bentuk khidmat Ayah terhadap sang Maha yang telah memberi beliau segala,. Kelebihan rezeki beserta nikmat iman. Kemudian dalam hati, aku berkelakar, terbata, "Ayah, Ketua Dewan Dakwah Indonesia. orang sehebat dan seberpengaruh itu. Aku. Sekarang tengah tinggal di rumah orang besar macam beliau?mimpi apa aku?".
kemudian lamunanku membawaku berselancar pada beberapa minggu sebelum virus Covid-19. Selesai acara para santri bergerumul mengelilingi Habib Ali kahf yang katanya nasabnya sampai pada Rasul SAW, mereka menciumi tangan Habib. Aku?? Secara tak sengaja, dengan jarak dekat malah berpapasan langsung dengan beliau. Aku tak mengerti, bagaimana mudah??
Kemudian ingatanku tertuju pada masa-masa itu. Entah berapa kali ucapan dalam hati dikabulkan Allah Ta'ala, tanpa terucap lisan terlebih dahulu bahkan. Ustadz Felix Siaw yang benar-benar lewat tepat di depan kursi dudukku saat seminar beliau di fakultasku sekitarn 4/5 tahun lalu. menyusul ustad-ustad besar kemudian. Hingga suatu hari, Hufazh yang lantunan suara merdunya biasa kudengar dan ku lihat di Youtube, berjalan tepat dihadapanku, hingga nampak betapa cahaya Qur'an memancar di wajah beliau, "Abdurrahman Al Ausy", secara tidak sengaja, ku tegaskan. kedengaran sedikit berlebihan mungkin, tapi aku merasa benar, cerah bak memancarkan cahaya wajah beliau. wajah orang soleh yang tak lepas dari lantunan wahyu sang pencipta, Allahu Ta'ala.
Beberapa hal terjadi setelahnya. aku bertemu orang-orang besar setelahnya, beberapa kali. Pernah diberi kehormatan duduk bersama para petinggi di ruangan presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), juga salah satu yang tidak bisa aku lupakan. Nikmat dan keberkahan menurutku. Entahlah.
Beberapa hal terjadi setelahnya. aku bertemu orang-orang besar setelahnya, beberapa kali. Pernah diberi kehormatan duduk bersama para petinggi di ruangan presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), juga salah satu yang tidak bisa aku lupakan. Nikmat dan keberkahan menurutku. Entahlah.
Perihal tetap berada di pulau jawa setelah kuliah, Allah kabulkan. Alasannya ingin meneguk ilmu dari asatidz-asatidz yang biasa kulihat pada media sosial atau youtube. Ustadz Khalid Basalamah adalah tujuanku, salah satu dan utamanya. Entahlah, bagiku dakwah beliau yang lembut serasa oase yang memberiku sejuk dan menghilangkan haus dahaga, melunakkan hati yang keras. Doaku terkabul, beliau mengisi agenda kajian tiap minggunya tak jauh dari rumahku. Hingga Allah izinkan berpapasan secara langsung, beliau lewat didepanku beberapa kali. Wajah orang Sholeh. Alhamdulillah. Dapat kurasakan energi dan pengaruh iman orang yang bersungguh-sungguh mengurus urusan umat dan menjadi penyampai berita bahagia serta peringatan dari Allahu Jalla Jallaluh.
Melihat Ustad Yusuf Mansur di Televisi sempat membuatku ingin bertemu beliau, kagum terhadap keilmuan dan tauhid beliau. Hingga di hari ini, sudah amat biasa bagiku bertemu beliau, yang biasa kami panggil "Ayah" juga. Banyak juga ayahku, lirihku dalam hati. Hari ini aku khidmat, mengabdi untuk Yayasan Qur'an yang beliau dirikan. Rasa mimpi aku.
Kemudian air mataku menetes saat mengingat semua hari-hari indah yang ku lalui dengan bertemu wajah-wajah orang soleh. Aku merintih, berkata dalam hati, "Ya Allah ini sebuah kenikmatan. Aku tidak menganggap ini sebuah kebetulan. apa yang membuatku dapat mengalami hal-hal ini?aku merasa ada pesan tersirat dari Ilahi Rabbi". Harapku aku dapat kembali bertemu dengan wajah-wajah orang sholeh tersebut di kehidupan setelah mati. Bertetangga bahkan.
Namun juga terbesit ucapan dalam hati, "apa justru ini sebuah takaran asbab pertambahan alasan beratnya timbangan keburukan, karna setelah bertemu beliau- beliau orang yang Allah muliakan itu, aku tak lantas menjadi sebaik-baik manusia?" sebuah tanggung jawab besar, pikirku..
Entah, Entahlah. Ya Allah Aku takut memang, walau lebih banyak merasakan nikmatMu. Namun, satu hal kawan, yang ingin ku bagikan adalah, "kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari". Bila sore ini kita hendak menyantap makanan sehat, tentu akan belanja ke pasar, menemukan beragam sayuran, biji-bijian beserta lauk yang sehat. Namun bila ingin mencari kesenangan dengan menyantap atau menikmati makanan atau minuman yang merusak, sekedar hanya untuk menyenangkan, maka bisa kita ke tempat hiburan yang menyediakan minuman keras beserta ditemani wanita-wanitanya.
Kita diberi akal yang dengannya kita dapat memilih, menentukan arah langkah. Hendak kemana kita. Hendak jadi apa, hendak memilih jalan yang hanya menyenangkan?atau jalan yang menyenangkan sekaligus menenangkan?" Karna sungguh, kita hanya akan sampai kepada apa-apa yang kita tuju. Adalah Allah yang semoga merahmati akal kita memilih dan selalu berada dalam jalan yang "Menyenangkan" sekaligus "Menenangkan". Semoga Allah tuntun langkah kita, bertemu dengan wajah orang-orang solih. Berada senantiasa dalam lingkaran mereka.
Dari Aku yang Hina Dina, penuh Dosa dan maksiat.
Melihat Ustad Yusuf Mansur di Televisi sempat membuatku ingin bertemu beliau, kagum terhadap keilmuan dan tauhid beliau. Hingga di hari ini, sudah amat biasa bagiku bertemu beliau, yang biasa kami panggil "Ayah" juga. Banyak juga ayahku, lirihku dalam hati. Hari ini aku khidmat, mengabdi untuk Yayasan Qur'an yang beliau dirikan. Rasa mimpi aku.
Kemudian air mataku menetes saat mengingat semua hari-hari indah yang ku lalui dengan bertemu wajah-wajah orang soleh. Aku merintih, berkata dalam hati, "Ya Allah ini sebuah kenikmatan. Aku tidak menganggap ini sebuah kebetulan. apa yang membuatku dapat mengalami hal-hal ini?aku merasa ada pesan tersirat dari Ilahi Rabbi". Harapku aku dapat kembali bertemu dengan wajah-wajah orang sholeh tersebut di kehidupan setelah mati. Bertetangga bahkan.
Namun juga terbesit ucapan dalam hati, "apa justru ini sebuah takaran asbab pertambahan alasan beratnya timbangan keburukan, karna setelah bertemu beliau- beliau orang yang Allah muliakan itu, aku tak lantas menjadi sebaik-baik manusia?" sebuah tanggung jawab besar, pikirku..
Entah, Entahlah. Ya Allah Aku takut memang, walau lebih banyak merasakan nikmatMu. Namun, satu hal kawan, yang ingin ku bagikan adalah, "kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari". Bila sore ini kita hendak menyantap makanan sehat, tentu akan belanja ke pasar, menemukan beragam sayuran, biji-bijian beserta lauk yang sehat. Namun bila ingin mencari kesenangan dengan menyantap atau menikmati makanan atau minuman yang merusak, sekedar hanya untuk menyenangkan, maka bisa kita ke tempat hiburan yang menyediakan minuman keras beserta ditemani wanita-wanitanya.
Kita diberi akal yang dengannya kita dapat memilih, menentukan arah langkah. Hendak kemana kita. Hendak jadi apa, hendak memilih jalan yang hanya menyenangkan?atau jalan yang menyenangkan sekaligus menenangkan?" Karna sungguh, kita hanya akan sampai kepada apa-apa yang kita tuju. Adalah Allah yang semoga merahmati akal kita memilih dan selalu berada dalam jalan yang "Menyenangkan" sekaligus "Menenangkan". Semoga Allah tuntun langkah kita, bertemu dengan wajah orang-orang solih. Berada senantiasa dalam lingkaran mereka.
Dari Aku yang Hina Dina, penuh Dosa dan maksiat.
Komentar
Posting Komentar