Apa Aku Harus Cerdas Secara Akademik ?

Bismillahirrahmanirrahiim..

Halo Semuanya, hay untuk kalian, siapapun yg mau meluangkan waktu membaca tulisan "Blogger Wannabe" ini atau bagaimana dengan sebutan "Pembelajar Awal"? Apa sebutan yang lebih pantas untuk aku si pembelajar ini?

It's been a long time since i was wrote my blog on 2017, i thought that i didn't  put my focus for everyhting that i did.  I wanna say to you guys, WELCOME. I'M BACK.

Selain memang tidak fokus, ada banyak cerita tersimpan ternyata, hingga akhirnya Tiaradina memutuskan untuk berbagi fikiran kembali lewat tulisan. Dibalik hilangnya Tiaradina, banyak cerita mengiringi kemudian untuk dibagikan di halaman halaman ini. Tidak Runut, Maaf sayang, karena Tiaradina memutuskan untuk menulis tulisan ini kembali saat dia tengah berfikir tentang dirinya. Dia merasa menemukan "bakat" nya saat tengah tertampar dengan jurusan kuliahnya, kemudian membuatnya berfikir.

Dan selanjutnya, kita Tiaradina akan bercerita banyak, tentangnya, tentang orang-orang yang mewarnai ceritanya. akan dimula, disini.. 

Sore, menjelang pulang kerja beberapa hari lalu. Berawal dari perbincangan ringan tentang jenis kertas legal F4 untuk perkantoran, obrolan tersebut lantas melecut diri Tiaradina yang kemudian memandang dirinya sendiri. Yah, dia sadar diri ternyata ilmu perkuliahan dengan jurusannya Ilmu Administrasi Publik tidak begitu bisa di aplikasikan pada dunia yang saat ini ia geluti. Kemudian dia merasa, "apa berarti saya ini bodoh?" nyatanya memang dia lemah pada pelajaran eksakta.  Misalnya pelajaran Matematika adalah pelajaran yg paling dia benci yang seolah menjadi hantu menakutkan pada setiap jadwal pelajarannya dalam persekolahan, begitu pula dengan Fisika, Kimia dan pelajaran eksak lainnya. Tapi apa ukuran kecerdasan hanya bisa dinilai pada keahlian pada ilmu eksak? Kalau begitu bagaimana dengan para seniman yang namanya besar karena bakat seni dalam dirinya, dunia tetap mengakui mereka dan memberikan penghargaan besar pada bidangnya.

Ketika Pablo Picaso menginjak usia lanjut, dia mencorat coret sebuah kertas dengan isengnya. kemudian seorang wanita menghampirinya, mengatakan kekagumannya pada coretan iseng Picaso. Wanita itu menawari gambar tersebut untuk dibeli, Pablo Picaso mematok harga 20 ribu dolar, wanita itu kaget, dan berkata, "Apa?Anda hanya perlu 20 menit untuk menggambar itu". dengan cerdas Picaso menjawab, "Tidak Nyonya, saya perlu lebih dari 60 Tahun menggambar ini". dia memasukkan tisu tersebut dalam kantungnya, dan pergi meninggalkan kafe. Pablo Ruiz Picasso adalah seorang seniman yang terkenal dalam aliran kubisme dan dikenal sebagai pelukis revolusioner pada abad ke-20. Jenius seni yang cakap membuat patung, grafis, keramik, kostum penari, balet sampai tata panggung. lihat, Picaso dikenang dan di akui justru bukan karena dia menjadi hebat atas apa yang orang lain definisikan, "Cerdas dalam ilmu Eksakta''. Artinya definisi cerdas ini amat luas, tidak terbatas pada keberhasilan seseorang pada bidang akademis.

Setiap orang, pasti mempunyai bakat dalam dirinya masing-masing. Itu pasti. Apapun. Bahkan hanya "bercerita" pun adalah sebuah bakat. Seorang motivator handal saya rasa bakat alaminya adalah bercerita, ia mampu membuat orang disekitarnya berfokus hanya padanya saat ia bercerita. dan ini adalah sebuah bakat. Hanya saja yang membedakan kemudian adalah apakah bakat dalam dirinya akan tumbuh sehingga menjadi suatu keahlian, ia di anggap ahli pada bakatnya. Atau hanya bakat yang kemudian mati, bersembunyi dalam dirinya, yang kemudian bisa dikatakan ia gagal menerjemahkan kemampuannya, mengembangkannya dan tidak menjadi suatu keahlian yang terasah.

Dan kegagalan sejati hakikatnya adalah ketika penyesalan datang pada dirinya di kemudian hari karena pada akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak menseriusi bakatnya, kemudian berkata, "Padahal saya suka sekali bidang ini, tapi saya ga ngembangin karena bla bla bla.. " dan pada akhirnya ia hanya terkurung dengan penyesalan tersebut. Penyesalan semacam ini justru membuatnya merencanakan kegagalan lebih lagi. Narasi "Jangan Menyerah" sebenarnya adalah suatu penekanan bahwa sukses dan perubahan tidak mengenal waktu. Kita Tahu sekelas Albert Enstein pun sukses pada umur 40 tahun.

 Setiap hari adalah proses "memulai". Di hari ini kau gagal, tenang kawan. Masih bisa kita coba hari esok. Setiap hari adalah percobaan. Karena Kegagalan adalah sebuah eksperimen hingga kau benar2 bertemu hasil dari percobaan kita. 

Jadi, mulailah mencoba. Karena tiap hari adalah proses percobaan. Itulah point pertama yang Tiaradina coba sampaikan disini. Pandangan orang umum tentang kesuksesan pun sudah terbentuk demikan juga, sempit, hanya pada aspek "Salary, tempat kerja, dan jenis pekerjaan". Peran orang tua justru sebenarnya amat penting dalam hal pengembangan keahlian atau bakat seorang anak. Yang tiaradina perhatikan pada masyarakat kita, 

Komentar

Posting Komentar